Tim Transisi Joko Widodo-Jusuf Kalla bertemu Menteri Luar Negeri Marty
Natalegawa di kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa, 9
September 2014. Menurut Marty, pertemuan membahas hal-hal yang berkaitan
dengan kegiatan yang segera dihadapi pemerintahan Jokowi-JK. Misalnya
KTT ASEAN, KTT APEC, KTT G-20, dan serangkaian kegiatan lainnya," kata
Marty di Kantor Kepresidenan. Kami sampaikan apa
agendanya, apa temanya, dan apa prioritas Indonesia selama ini. Selain itu, kata Marty, dia juga menyampaikan update
ihwal perkembangan di kawasan, terutama masalah-masalah yang menjadi
perhatian Indonesia. Indonesia harus selalu siap untuk
memberikan kontribusi yang positif. Selama ini Indonesia tampil bukan
hanya sebagai negara partisipan, tapi juga ikut membantu menangani
masalah internasional. Adapun
pertemuan berlangsung selama kurang-lebih satu setengah jam. Hadir
dalam pertemuan, antara lain Kepala Tim Transisi Rini Soemarno dan Wakil
Andi Widjajanto. Menurut Marty, pertemuan berlangsung dengan baik.
"Saya kira ada tekad yang kuat dari kedua belah pihak untuk memastikan
yang baik akan dilanjutkan dan juga peluang-peluang yang lebih baik akan
dilakukan," ucap Marty. Inilah Menteri Favorited yaitu: Bapak Marty Natalegawa ia merupakan Tokoh Indonesia yang paling aku kagumi, menurutku dia adalah menteri paling ganteng, keren dan berwibawa dibanding
menteri-menteri Indonesia lain yang pernah ada. berikut adalah beberapa
sepak-terjang Pak Marty dalam mendapatkan posisinya saat ini sebagai
Menteri luar negeri Indonesia yang aku dapat dari sebuah sumber.
Marty Natalegawa. Begitu publik mengenalnya sebagai seorang diplomat handal dan terbukti dipercaya oleh negara dalam hal hubungan luar negeri bangsa kita yang bebas aktif. Kini, kemerdekaan diplomasi Indonesia dipercayakan padanya tatkala ia ditunjuk menjadi Menteri Luar Negeri pada periode pemerintahan SBY jilid II. Terkenal dengan kelihaiannya mengendalikan komunikasi bahkan di saat genting membuat SBY meliriknya sebagai calon terkuat Menteri Luar Negeri menggantikan Dr. Hasan Wirajuda. Ini disebut-sebut merupakan cita-citanya yang terwujud dan merupakan puncak karirnya sebagai seorang Doktor hubungan luar negeri setelah mengalami proses pembelajaran yang panjang dalam jalur diplomasi internasional. Di PBB, kiprah Dr. Raden Marty Muliana Natalegawa, M.Phil, B.Sc, cukup menonjol. Salah satu sikapnya (mewakili Indonesia) yang cukup menonjol tatkala dia satu-satunya yang bersikap abstain ketika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa sepakat menjatuhkan sanksi baru bagi Iran, terkait dengan masalah sengketa atom. Resolusi DK No. 1803 itu diambil lewat voting di Markas Besar PBB, New York, Selasa 4 Maret 2008 (WIB). Dari 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB, 14 negara menyetujui, hanya Indonesia satu-satunya yang bersikap abstain.
Latar Belakang Marty Natalegawa
Ini dia adalah seorang Menteri Luar Negeri yg bernama Raden Mohammad Marty Muliana Natalegawa atau yang akrab disebut dengan Marty Natalegawa menjadi salah satu kandidat menteri luar negeri yang banyak diusulkan masyarakat pada Jokowi. Pria kelahiran 22 Maret 1963 ini mengenal dunia internasional sejak umur 9 tahun. Marty lebih banyak menghabiskan waktunya di luar negeri dari pada di Tanah Air. Sejak SMP hingga mendapat gelar Doktor, pria berwajah tampan ini mengenyam pendidikan di negeri orang. Marty membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Ia sudah mulai mengecap dunia internasional saat duduk sebagai siswa setingkat SMP di Singapore International School, Singapura, 1974, sebelum pindah ke SMP, Ellesmere College, Inggris, 1978. Kemudian dia masuk SMA, Concord College, Inggris, 1981.
Setelah itu meraih gelar BSc, Homour, in International Relations, London School of Economics and Political Science, University of London, 1984 dan Master of Philosophy in International Relations, Corpus Christi College, Cambridge University, 1985. Jadi sejak sekolah menengah pertama hingga menamatkan S2, Marty selalu bersekolah di Inggris. Gelar doktornya (Doctor oh Philosophy in International Relations) diraih di Australian National University, 1993.
Dari kecil, dia memang bercita-cita menggumuli dan berkarir di bidang hubungan internasional. Maka setelah menyelesaikan studi dan kembali ke Indonesia, dia pun langsung merapat ke Departemen Luar Negeri. Dia memulai karir sebagai Staf Badan Litbang, Deplu, 1986-1990. Ia mengaku saat itu ia mengalami cultural shock melihat banyaknya persoalan dan perbincangan yang selalu dianggap susah. Namun ia memilih menyesuaikan diri, bukan melebur.
Dia bertekad harus punya prinsip dasar kalau melihat satu lingkungan yang tidak benar, harus berani mengoreksi. Dia bertekad harus berani mencoba mengubah, yang dimulai dari diri sendiri. Dia memberi misal, sikap birokrat yang menutup diri, minta dilayani, yang sudah begitu mengakar dalam sistem birokrasi kita. Harus diubah, dan kalau ingin berubah, harus mulai dari diri sendiri.
Marty mengawali kariernya di Departemen Luar Negeri (Kementerian Luar Negeri) pada 1986. Marty mulanya menempati posisi Staf Badan Litbang Departemen Luar Negeri pada 1986-1990.Karier Marty terus menanjak sejak awal 2000, tepatnya ketika ia ditunjuk sebagai juru bicara Departemen Luar Negeri periode 2002-2005. Pada periode selanjutnya (11 November 20055 September 2007), Marty dilantik menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Inggris Raya dan Republik Irlandia, menggantikan Juwono Sudarsono yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Revolusi yang luar biasa Marty Natalegawa kini menjabat sebagai Duta Besar RI untuk PBB
setelah dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Inggris, pria kelahiran Bandung 22 Maret 1963, ini kemudian tak berapa lama diangkat menjadi Wakil Tetap Republik Indonesia (RI) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di PBB, kiprah Dr. Raden Marty Muliana Natalegawa, M.Phil, B.Sc, cukup menonjol. Salah satu sikapnya (mewakili Indonesia) yang cukup menonjol tatkala dia satu-satunya yang bersikap abstain ketika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa sepakat menjatuhkan sanksi baru bagi Iran, terkait dengan masalah sengketa atom. Resolusi DK No. 1803 itu diambil lewat voting di Markas Besar PBB, New York, Selasa 4 Maret 2008 (WIB). Dari 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB, 14 negara menyetujui, hanya Indonesia satu-satunya yang bersikap abstain.
Menteri Luar Negeri (2009-2014)
Marty Natalegawa menjelaskan alasan dia mengacungkan tangan menunjukkan sikap Indonesia: "Tujuan dari strategi resolusi sebelumnya sudah tercapai. Iran telah bekerjasama dengan Badan Energi Atom Internasional IAEA. Pada titik ini, pemberian sanksi baru bukanlah langkah terbaik."
Keberanian bersikap abstain dan kepiawaian berdiplomasi membuat dirinya pantas di acungi jempol, bukan oleh bangsa Indonesia saja, melainkan juga para diplomat dunia. Hal itu terbukti tatkala pada saat hampir bersamaan, 28 Februari 2008, Marty (Indonesia) terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Komite Khusus PBB untuk Dekolonisasi periode 2008.
Menteri Luar Negeri (2009-2014)
Marty Natalegawa yang sebelumnya dikenal sebagai Juru Bicara Departemen Luar Negeri, 11 November 2005 hingga 5 September 2007, dipercaya menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Inggris. Suami dari Sranya Bamrungphong, ini merupakan duta besar termuda, apalagi untuk pos dubes penting, Inggris, AS dan Jepang. Dia seorang diplomat muda yang jenjang karirnya menanjak demikian cepat. Dia berhasil melintasi hambatan enjang urut kacang dan birokrasi (kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah).
Kepercayaan semakin tinggi diberikan kepadanya, dengan mengangkatnya menjadi Wakil Tetap Republik Indonesia (RI) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sejak 5 September 2007. Dia mengoptimalkan peran Indonesia di PBB dengan jabatan itu. Pada bulan November 2007, Marty mendapat kepercayaan penting sebagai Presiden Dewan Keamaan PBB. Kemudian, dia pun terpilih sebagai Ketua Komite Khusus PBB untuk Dekolonisasi periode 2008. Pemilihan ini dilakukan pada sesi pertama sidang Komite tanggal 28 Februari 2008 yang dipimpin oleh Sekjen PBB, Ban Ki-Moon.
Komite Khusus Dekolonisasi, atau dikenal juga sebagai Komite 24 (dari jumlah negara yang menjadi anggota komite ini pada masa awal pendiriannya), merupakan badan yang diberi kewenangan untuk melakukan implementasi Deklarasi Pemberian Kemerdekaan bagi Wilayah-wilayah Jajahan dan Penduduknya. Dalam sambutannya, Dubes Marty mengatakan, Indonesia sangat terhormat dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat internasional melalui pemilihannya sebagai Ketua Komite Khusus Dekolonisasi secara aklamasi itu. Menurut Marty, kesediaan Indonesia untuk menerima mandat sebagai ketua komite ini merupakan salah satu perwujudan pelaksanaan lebih lanjut dari semangat Dasasila Bandung Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955.
Marty menjabat sebagai Duta Besar RI untuk PBB (5 September 2007-22 Oktober 2009).Pada November, Marty sukses berkiprah di dunia internasional dengan menjadi salah satu orang Indonesia yang pernah menjadi Presiden Dewan Keamanan PBB. Pada 22 Oktober 2009, Marty dilantik menjadi Menteri Luar Negeri Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu II.Ia merupakan Menteri Luar negeri RI yang ke-17, menggantikan Dr. Nur Hassan Wirajuda. Marty terpilih sebagai Menteri Luar Negeri menggantikan Hassan Wirajuda dalam pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di masa jabatan kedua pada 22 Oktober 2009. Bergabung di Kementerian Luar Negeri sejak berusia 22 tahun, dia mengaku bersyukur telah berhasil menuntaskan masa tugasnya.
"Saya betul-betul mensyukuri sudah bekerja di Kemlu. Meskipun saya tidak dibayar sekalipun, saya sebagai pejabat di Kemlu sudah merasa luar biasa," kata mantan Duta Besar RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa 2007-2009 di New York itu.
Harapan Marty Natalegawa Bagi Menlu Baru
Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa, 51 tahun, mengaku sisa masa jabatannya di Kabinet Indonesia Bersatu yang hanya beberapa hari digunakannya untuk konsolidasi di dalam Kementerian. Urusan sehari-hari dari kebijakan luar negeri tidak berhenti sampai di detik-detik terakhir," kata pria bernama lengkap Raden Mohammad Marty Muliana Natalegawa itu saat ditemui Tempo di ruang kerjanya, Kamis, 16 Oktober 2014. "Life goes on in terms of foreign policy. Masalah politik luar negeri harus kita kelola terus, tidak boleh ada kevakuman.
Sumber:
http://muda.kompasiana.com/2010/12/08/marty-natalegawa-memegang-diplomasi-indonesia/
http://bintangnews.com/en/nasional/10102-marty-natalegawa-bagi-menlu-baru.html
Marty Natalegawa. Begitu publik mengenalnya sebagai seorang diplomat handal dan terbukti dipercaya oleh negara dalam hal hubungan luar negeri bangsa kita yang bebas aktif. Kini, kemerdekaan diplomasi Indonesia dipercayakan padanya tatkala ia ditunjuk menjadi Menteri Luar Negeri pada periode pemerintahan SBY jilid II. Terkenal dengan kelihaiannya mengendalikan komunikasi bahkan di saat genting membuat SBY meliriknya sebagai calon terkuat Menteri Luar Negeri menggantikan Dr. Hasan Wirajuda. Ini disebut-sebut merupakan cita-citanya yang terwujud dan merupakan puncak karirnya sebagai seorang Doktor hubungan luar negeri setelah mengalami proses pembelajaran yang panjang dalam jalur diplomasi internasional. Di PBB, kiprah Dr. Raden Marty Muliana Natalegawa, M.Phil, B.Sc, cukup menonjol. Salah satu sikapnya (mewakili Indonesia) yang cukup menonjol tatkala dia satu-satunya yang bersikap abstain ketika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa sepakat menjatuhkan sanksi baru bagi Iran, terkait dengan masalah sengketa atom. Resolusi DK No. 1803 itu diambil lewat voting di Markas Besar PBB, New York, Selasa 4 Maret 2008 (WIB). Dari 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB, 14 negara menyetujui, hanya Indonesia satu-satunya yang bersikap abstain.
Latar Belakang Marty Natalegawa
Ini dia adalah seorang Menteri Luar Negeri yg bernama Raden Mohammad Marty Muliana Natalegawa atau yang akrab disebut dengan Marty Natalegawa menjadi salah satu kandidat menteri luar negeri yang banyak diusulkan masyarakat pada Jokowi. Pria kelahiran 22 Maret 1963 ini mengenal dunia internasional sejak umur 9 tahun. Marty lebih banyak menghabiskan waktunya di luar negeri dari pada di Tanah Air. Sejak SMP hingga mendapat gelar Doktor, pria berwajah tampan ini mengenyam pendidikan di negeri orang. Marty membuatnya menjadi seperti sekarang ini. Ia sudah mulai mengecap dunia internasional saat duduk sebagai siswa setingkat SMP di Singapore International School, Singapura, 1974, sebelum pindah ke SMP, Ellesmere College, Inggris, 1978. Kemudian dia masuk SMA, Concord College, Inggris, 1981.
Setelah itu meraih gelar BSc, Homour, in International Relations, London School of Economics and Political Science, University of London, 1984 dan Master of Philosophy in International Relations, Corpus Christi College, Cambridge University, 1985. Jadi sejak sekolah menengah pertama hingga menamatkan S2, Marty selalu bersekolah di Inggris. Gelar doktornya (Doctor oh Philosophy in International Relations) diraih di Australian National University, 1993.
Dari kecil, dia memang bercita-cita menggumuli dan berkarir di bidang hubungan internasional. Maka setelah menyelesaikan studi dan kembali ke Indonesia, dia pun langsung merapat ke Departemen Luar Negeri. Dia memulai karir sebagai Staf Badan Litbang, Deplu, 1986-1990. Ia mengaku saat itu ia mengalami cultural shock melihat banyaknya persoalan dan perbincangan yang selalu dianggap susah. Namun ia memilih menyesuaikan diri, bukan melebur.
Dia bertekad harus punya prinsip dasar kalau melihat satu lingkungan yang tidak benar, harus berani mengoreksi. Dia bertekad harus berani mencoba mengubah, yang dimulai dari diri sendiri. Dia memberi misal, sikap birokrat yang menutup diri, minta dilayani, yang sudah begitu mengakar dalam sistem birokrasi kita. Harus diubah, dan kalau ingin berubah, harus mulai dari diri sendiri.
Marty mengawali kariernya di Departemen Luar Negeri (Kementerian Luar Negeri) pada 1986. Marty mulanya menempati posisi Staf Badan Litbang Departemen Luar Negeri pada 1986-1990.Karier Marty terus menanjak sejak awal 2000, tepatnya ketika ia ditunjuk sebagai juru bicara Departemen Luar Negeri periode 2002-2005. Pada periode selanjutnya (11 November 20055 September 2007), Marty dilantik menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Inggris Raya dan Republik Irlandia, menggantikan Juwono Sudarsono yang menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Revolusi yang luar biasa Marty Natalegawa kini menjabat sebagai Duta Besar RI untuk PBB
setelah dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Inggris, pria kelahiran Bandung 22 Maret 1963, ini kemudian tak berapa lama diangkat menjadi Wakil Tetap Republik Indonesia (RI) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Di PBB, kiprah Dr. Raden Marty Muliana Natalegawa, M.Phil, B.Sc, cukup menonjol. Salah satu sikapnya (mewakili Indonesia) yang cukup menonjol tatkala dia satu-satunya yang bersikap abstain ketika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa sepakat menjatuhkan sanksi baru bagi Iran, terkait dengan masalah sengketa atom. Resolusi DK No. 1803 itu diambil lewat voting di Markas Besar PBB, New York, Selasa 4 Maret 2008 (WIB). Dari 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB, 14 negara menyetujui, hanya Indonesia satu-satunya yang bersikap abstain.
Menteri Luar Negeri (2009-2014)
Marty Natalegawa menjelaskan alasan dia mengacungkan tangan menunjukkan sikap Indonesia: "Tujuan dari strategi resolusi sebelumnya sudah tercapai. Iran telah bekerjasama dengan Badan Energi Atom Internasional IAEA. Pada titik ini, pemberian sanksi baru bukanlah langkah terbaik."
Keberanian bersikap abstain dan kepiawaian berdiplomasi membuat dirinya pantas di acungi jempol, bukan oleh bangsa Indonesia saja, melainkan juga para diplomat dunia. Hal itu terbukti tatkala pada saat hampir bersamaan, 28 Februari 2008, Marty (Indonesia) terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Komite Khusus PBB untuk Dekolonisasi periode 2008.
Menteri Luar Negeri (2009-2014)
Marty Natalegawa yang sebelumnya dikenal sebagai Juru Bicara Departemen Luar Negeri, 11 November 2005 hingga 5 September 2007, dipercaya menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Inggris. Suami dari Sranya Bamrungphong, ini merupakan duta besar termuda, apalagi untuk pos dubes penting, Inggris, AS dan Jepang. Dia seorang diplomat muda yang jenjang karirnya menanjak demikian cepat. Dia berhasil melintasi hambatan enjang urut kacang dan birokrasi (kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah).
Kepercayaan semakin tinggi diberikan kepadanya, dengan mengangkatnya menjadi Wakil Tetap Republik Indonesia (RI) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sejak 5 September 2007. Dia mengoptimalkan peran Indonesia di PBB dengan jabatan itu. Pada bulan November 2007, Marty mendapat kepercayaan penting sebagai Presiden Dewan Keamaan PBB. Kemudian, dia pun terpilih sebagai Ketua Komite Khusus PBB untuk Dekolonisasi periode 2008. Pemilihan ini dilakukan pada sesi pertama sidang Komite tanggal 28 Februari 2008 yang dipimpin oleh Sekjen PBB, Ban Ki-Moon.
Komite Khusus Dekolonisasi, atau dikenal juga sebagai Komite 24 (dari jumlah negara yang menjadi anggota komite ini pada masa awal pendiriannya), merupakan badan yang diberi kewenangan untuk melakukan implementasi Deklarasi Pemberian Kemerdekaan bagi Wilayah-wilayah Jajahan dan Penduduknya. Dalam sambutannya, Dubes Marty mengatakan, Indonesia sangat terhormat dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat internasional melalui pemilihannya sebagai Ketua Komite Khusus Dekolonisasi secara aklamasi itu. Menurut Marty, kesediaan Indonesia untuk menerima mandat sebagai ketua komite ini merupakan salah satu perwujudan pelaksanaan lebih lanjut dari semangat Dasasila Bandung Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955.
Marty menjabat sebagai Duta Besar RI untuk PBB (5 September 2007-22 Oktober 2009).Pada November, Marty sukses berkiprah di dunia internasional dengan menjadi salah satu orang Indonesia yang pernah menjadi Presiden Dewan Keamanan PBB. Pada 22 Oktober 2009, Marty dilantik menjadi Menteri Luar Negeri Republik Indonesia pada Kabinet Indonesia Bersatu II.Ia merupakan Menteri Luar negeri RI yang ke-17, menggantikan Dr. Nur Hassan Wirajuda. Marty terpilih sebagai Menteri Luar Negeri menggantikan Hassan Wirajuda dalam pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di masa jabatan kedua pada 22 Oktober 2009. Bergabung di Kementerian Luar Negeri sejak berusia 22 tahun, dia mengaku bersyukur telah berhasil menuntaskan masa tugasnya.
"Saya betul-betul mensyukuri sudah bekerja di Kemlu. Meskipun saya tidak dibayar sekalipun, saya sebagai pejabat di Kemlu sudah merasa luar biasa," kata mantan Duta Besar RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa 2007-2009 di New York itu.
Harapan Marty Natalegawa Bagi Menlu Baru
Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa, 51 tahun, mengaku sisa masa jabatannya di Kabinet Indonesia Bersatu yang hanya beberapa hari digunakannya untuk konsolidasi di dalam Kementerian. Urusan sehari-hari dari kebijakan luar negeri tidak berhenti sampai di detik-detik terakhir," kata pria bernama lengkap Raden Mohammad Marty Muliana Natalegawa itu saat ditemui Tempo di ruang kerjanya, Kamis, 16 Oktober 2014. "Life goes on in terms of foreign policy. Masalah politik luar negeri harus kita kelola terus, tidak boleh ada kevakuman.
Tentu,
masih banyak yang belum dicapai. Namun yang namanya politik luar negeri
kan merupakan suatu proses. Tidak bisa dituntaskan dalam satu masa
pemerintahan, masih banyak peluang yang belum dimanfaatkan. Semoga
Kemenlu bisa meningkatkan kekurangan-kekurangan selama ini di masa
depan," tutur pria yang sebelumnya juga pernah menjabat sebagai juru
bicara Departemen Luar Negeri itu. Namun, dia turut berharap, jika ada program yang dianggap baik, untuk diteruskan.
Ditanya
kemungkinan Presiden terpilih, Joko Widodo menghubungi dia untuk
kembali menduduki posisi tersebut, Marty tidak menjelaskan lebih jauh.
Komunikasi
lebih kepada tugas-tugas Presiden terpilih, Bapak Joko Widodo, untuk
memastikan bahwa satu tahapan bisa berjalan lebih baik," kata dia.
Mantan
Utusan tetap RI di PBB itu pun juga enggan berspekulasi mengenai
kemungkinan namanya terpilih kembali sebagai menlu. Dia menyebut,
sebelumnya tidak pernah berpikir jauh untuk menjadi menlu.
Menjadi
pegawai negeri apalagi pejabat Kemenlu sudah merupakan suatu kehormatan
yang luar biasa dan oleh sebab itu saya merasa itu adalah sesuatu yang
patut disyukuri," kata dia.
Fokusnya
saat ini, lebih kepada bagaimana dalam beberapa hari ke depan,
tugas-tugas di masa pemerintahan ini akan tuntas. Marty mengatakan,
sebelum meninggalkan kursi menlu, dia akan mempersiapkan diri sebaik
mungkin sehingga tugas-tugas lain yang belum terselesaikan bisa
dialihkan ke pemerintahan berikutnya.
http://muda.kompasiana.com/2010/12/08/marty-natalegawa-memegang-diplomasi-indonesia/
http://bintangnews.com/en/nasional/10102-marty-natalegawa-bagi-menlu-baru.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar